Selamat Datang di WebBlog "Hardian77" Menjalin Persaudaraan... Rindukan Perubahan...! Kalau Bukan Sekarang, Kapan Lagi??? Kalau Bukan Kita, Siapa lagi???

04 November 2008

DELISA… oh ….DELISA……!

    Delisa melanjutkan belajar menggurai kaligrafi di atas pasir di dalam ember plastic. Kak ubai mengajarkan mereka menulis kata-kata ummi! Dan delisa menggurat "wajah" Ummi di atas pasirnya.

    Sore datang menjelang. Matahari senja pelan menghujam bumi di ujung cakrawala. Dari atas lereng bukit ini Delisa dan teman-temannya bisa melihat matahari tenggelam di laut Lhok Nga di kejauhan. Jingga

    Saat mereka akan pulang. Delisa ingn mencuci kedua tangannya yang kotor oleh pasir ke sungai kecil di dekat lapangan tersebut. Kak ubai membiarkan saja, meskipun anak-anak lain cukup mengibas-ngibaskan tangannya. Mereka bersiap-siap pulang. Memasukkan ember-ember plastic ke dalam mobil. Melipat tikar membersihkan sampah-sampah.

    Delisa sedang menuju tempat pertemuannya…

    Ketika Delisa patah-patah menuruni sungai kecil tersebut. Ketika Delisa menyibak rambut ikal pirangnya yang menutupi dahi. Ketika ujung jemari Delisa menyentuh sejuknya air sungai. Ketika itulah, seekor burung belibis terbang di atas kepalanya. Memercikkan air di mukanya. Delisa terperanjat. Mengangkat kepalanya. Menatap burung tersebut yang terbang menjauh. Ketika itulah, Delisa menatap sesuatu di seberang sungai yang lebarnya hanya berbilang dua-tiga meter tersebut.

    Sesuatu di seberang.

    Kemilau kuning. Indah menakjubkan memantulkan cahaya matahari senja. Sesuatu tiu terjuntai. Terjuntai di sebuah semak belukar. Semak belukar itu juga indah. Semak belukar liar itu sedang berbuah. Buahnya kecil-kecil . berwarna merah-ranum. Memenuhi seluruh permukaannya.

    Delisa gemetar menyeberangi sungai. Celananya basah hilnga sepaha. Delisa gentar sekali. Ya Allah! Seuntai kalung tersangkut. Seuntai kalung yang indah. Delisa serasa mengenalinya. Ya Allah, ada huruf D di sana.

    D untuk Delisa.

    Delisa terkesiap.,

    Tidak! Bukan karena menatap kalung tersebut. Di sana. Di atas semak belukar yang merah oleh buahnya. Di sana! Delisa tidak terkesiap oleh kalung tersebut!

    Kalung itu bukan tersangkut di dedahanan. Tidak tersangkut da daunan. Kalung itu tersangkut di tangan. Tangan yang sudah kerangka. Sempurna kerangka manusia. Putih. Tulang-belulang. Utuh. Bersandarkan semak belukar tersebut.

    "U-m-m-i!" Delisa jatuh terjerambab ke dalam sejuk nya air sungai. Delisa buncah oleh sejuta perasaan itu…..!

Komentar :


ShoutMix chat widget
Add to Google
Halo.....
Terima Kasih Atas Kunjungannya,
Semoga Bermanfaat.