Selamat Datang di WebBlog "Hardian77" Menjalin Persaudaraan... Rindukan Perubahan...! Kalau Bukan Sekarang, Kapan Lagi??? Kalau Bukan Kita, Siapa lagi???

09 Desember 2012

Materi 1 Dasar Pembiakan Tanaman

PEMBIAKAN TANAMAN
By :Hardiansyah, SP

        Tanaman perlu pembiakan dalam rangka mempertahankan jenisnya dan peningkatan produksinya. Ada dua cara pembiakan tanaman ialah: (1) Secara generatif/reproduktif (secara kawin) dengan menggunakan benih (biji yang memenuhi persyaratan sebagai bahan tanaman; (2) Secara vegetatif (secara tak kawin) dengan menggunakan organ vegetatif.

PEMBIAKAN GENERATIF/REPRODUKTIF (SECARA KAWIN/SEKSUAL)
        Pengertian Pembiakan Generatif adalah Pembentukan biji melalui proses penyerbukan (jatuhnya tepung sari pada kepala putik) kemudian dilanjutkan dengan pembuahan (peleburan antara gamet jantan dari tepung sari dan gamet betina dari putik).

Pembungaan, Penyerbukan dan Pembuahan Tanaman

BUNGA
Bunga (flos) atau kembang adalah struktur reproduksi seksual pada tumbuhan berbunga (Angiospermae atau Tumbuhan berbiji tertutup"). Pada bunga terdapat organ reproduksi yaitu benang sari dan putik.
Bunga merupakan organ generatif tanaman, hal itu disebabkan, melalui bunga akan berlanjut regenerasi tanaman baru sehingga tanaman selalu eksis dari waktu ke waktu.
Fungsi Bunga
menghasilkan biji dengan cara bungan menjadi wadah menyatunya gamet jantan (mikrospora) dan betina (makrospora) untuk menghasilkan biji. Proses dimulai dengan penyerbukan, yang diikuti dengan pembuahan, dan berlanjut dengan pembentukan biji. Penyerbukan dan pembuahan berlangsung pada bunga. Setelah pembuahan, bunga akan berkembang menjadi buah. Buah adalah struktur yang membawa biji.
Morfologi bunga
Bagian-bagian bunga sempurna.
Kepala putik (stigma)
Tangkai putik (stilus).
Tangkai sari (filament, bagian dari benang sari)
Sumbu bunga (axis)
Artikulasi
Tangkai bunga (pedicel)
Kelenjar nektar
Benang sari (stamen)
Bakal buah (ovum)
Bakal biji (ovulum)
Serbuk sari (pollen)
Kepala sari (anther)
Perhiasan bunga (periantheum
Mahkota bunga (corolla)
Kelopak bunga (calyx)

Bunga Bempurna adalah bunga yang memiliki alat kelamin jantan (Benang sari) dan alat kelamin betina (Putik) secara bersama-sama dalam satu organ.
Bunga Lengkap (complete flower) adalah bunga yang memiliki semua bagian utama bunga. Empat bagian utama bunga (dari luar ke dalam) adalah sebagai berikut:
Benang sari (Stamen) atau Alat kelamin jantan.
Putik (Karpel) atau Alat Kelamin betina.
Kelopak bunga atau calyx.
Mahkota bunga atau corolla yang biasanya tipis dan dapat berwarna-warni untuk memikat serangga yang membantu proses penyerbukan.

PEMBUNGAAN
Proses pembungaan mengandung sejumlah tahap penting, yang semuanya harus berhasil dilangsungkan untuk memperoleh hasil akhir yaitu biji. Proses pembungaan tanaman terutama pada tanaman tahunan adalah sangat kompleks. Secara fisiologis proses pembungaan ini masih sulit dimengerti, hal ini disebabkan kurangnya informasi yang tersedia.
Dalam perkembangannya, proses pembungaan ini meliputi beberapa tahap dan semua tahap harus dilalui dengan baik agar dapat menghasilkan panen tinggi. Tahapan dari pembungaan meliputi:
Induksi bunga (evokasi)
Adalah tahap pertama dari proses pembungaan, yaitu suatu tahap ketika meristem vegetatif diprogram untuk mulai berubah menjadi meristem reproduktif.
Terjadi di dalam sel.
Dapat dideteksi secara kimiawi dari peningkatan sintesis asam nukleat dan protein, yang dibutuhkan dalam pembelahan dan diferensiasi sel.
Inisiasi bunga
Adalah tahap ketika perubahan morfologis menjadi bentuk kuncup reproduktif mulai dapat terdeteksi secara makroskopis untuk pertama kalinya.
Transisi dari tunas vegetatif menjadi kuncup reproduktif ini dapat dideteksi dari perubahan bentuk maupun ukuran kuncup, serta proses-proses selanjutnya yang mulai membentuk organ-organ reproduktif. Menurut Ashari (1998) tanaman keras ternyata mempunyai periode inisiasi dan pembungaan yang sangat beragam. Pada umumnya periode antara inisiasi dan pembungaan berkaitan dengan sifat tumbuhnya yang juga dipengaruhi oleh iklim. Kebanyakan tanaman tropis dan subtropis mempunyai periode inisiasi bunga dan antesis yang sangat singkat.
Perkembangan kuncup bunga menuju anthesis (bunga mekar)
Ditandai dengan terjadinya diferensiasi bagian-bagian bunga.
Pada tahap ini terjadi proses megasporogenesis dan mikrosporogenesis untuk penyempurnaan dan pematangan organ-organ reproduksi jantan dan betina.
Anthesis
Merupakan tahap ketika terjadi pemekaran bunga.
Biasanya anthesis terjadi bersamaan dengan masaknya organ reproduksi jantan dan betina, walaupun dalam kenyataannya tidak selalu demikian. Ada kalanya organ reproduksi, baik jantan maupun betina, masak sebelum terjadi anthesis, atau bahkan jauh setelah terjadinya anthesis.
Bunga-bunga bertipe dichogamy mencapai kemasakan organ reproduktif jantan dan betinanya dalam waktu yang tidak bersamaan.
Penyerbukan dan pembuahan Tahap ini memberikan hasil terbentuknya buah muda. Detil dari proses penyerbukan lihat Penyerbukan
Perkembangan buah muda menuju kemasakan buah dan biji Tahap ini diawali dengan pembesaran bakal buah (ovarium), yang diikuti oleh perkembangan cadangan makanan (endosperm), dan selanjutnya terjadi perkembangan embryo. Pembesaran buah merupakan efek dari pembelahan dan pembesaran sel, yang meliputi tiga tahap:
Tahap pertama : Terjadi peningkatan penebalan pada pericarp oleh adanya pembelahan sel.
Tahap kedua : Terjadi pembentukan dan pembesaran vesikel berair (juice vesicle); biasanya terjadi pada buah-buah fleshy
Tahap ketiga : Tahap pematangan, biasanya terjadi pengkerutan jaringan dan pengerasan endocarp pada buah-buahan

PENYERBUKAN (POLINASI)
Pengertian Penyerbukan adalah peristiwa pemindahan atau jatuhnya pollen dari anther pada kepala putik (stigma) baik  pada bunga yang sama atau bunga lain yang masih dalam satu spesies. Jika pollen sesuai (compatible), pollen akan berkecambah pada kepala putik dan membentuk sebuah  tabung pollen yang akan membawa gamet jantan pada gametofit betina. Suatu senyawa protein tertentu pada awal pembentukan pollen yang disebut Lectin, terdapat di dalan exine dan intine. Lectin berperan penting dalam mekanisme mengenali antara putik-pollen.  Namun bila pollen tidak sesui (incompatible), perkecambahan pollen akan terhambat atau pertumbuhan tabung pollen akan tertahan dalam jaringan pemindah. Ketidaksesuaian dapat diwujudkan dalam jaringan baik kepala putik maupun stylus pada berbagai fase sebelum pembuahan (fertilisasi).
Penyerbukan atau polinasi adalah transfer serbuk sari/polen ke kepala putik (stigma). Kejadian ini merupakan tahap awal dari proses reproduksi. Menurut Elisa (2004) penyerbukan merupakan : - pengangkutan serbuk sari (pollen) dari kepala sari (anthera) ke putik (pistillum) - peristiwa jatuhnya serbuk sari (pollen) di atas kepala putik (stigma).
Bunga merupakan alat reproduksi yang kelak menghasilkan buah dan biji. Di dalam biji ini terdapat calon tumbuhannya (lembaga). Terjadi buah dan biji serta calon tumbuhan baru tersebut karena adanya penyerbukan dan pembuahan. Penyerbukan merupakan jatuhnya serbuk sari pada kepala putik (untuk golongan tumbuhan berbiji tertutup) atau jatuhnya serbuk sari langsung pada bakal biji (untuk tumbuhan berbiji telanjang).
Beberapa hal yang perlu diperhatikan agar proses polinasi berjalan lancar dengan hasil optimal, antara lain :
Sistem penyilangan (breeding system) dan variasi jenis kelamin yang menentukan perlunya penyerbukan silang.
Saat penyebaran serbuk sari, reseptimatis stigma induk bunga, seluruh tanaman/ pohon yang dikaitkan dengan aktivitas harian serta musiman vektor penyebuk.
Vektor yang berperan dalam penyerbukan.
Pengaruh cuaca terhadap sinkronisasi pembungaan, penyebaran serbuk sari, serta aktivitas vektor.

Penyerbukan dibedakan menjadi :
Penyerbukan tertutup (kleistogami) Terjadi jika putik diserbuki oleh serbuk sari dari bunga yang sama. Dapat disebabkan oleh : • Putik dan serbuk sari masak sebelum terjadinya anthesis (bunga mekar) • Konstruksi bunga menghalangi terjadinya penyerbukan silang (dari luar), misalnya pada bunga dengan kelopak besar dan menutup. Contoh : familia Papilionaceae
Penyerbukan terbuka (kasmogami) Terjadi jika putik diserbuki oleh serbuk sari dari bunga yang berbeda. Hal ini dapat terjadi jika putik dan serbuk sari masak setelah terjadinya anthesis (bunga mekar).
Beberapa tipe penyerbukan terbuka:
Autogamie (penyerbukan sendiri) : Putik diserbuki oleh serbuk sari dari bunga yang sama
Geitonogamie (penyerbukan tetangga) : Putik diserbuki oleh serbuk sari dari bunga yang yang lain, dalam pohon yg sama.
Allogamie (penyerbukan silang) : Putik diserbuki oleh serbuk sari dari tanaman lain  tapi masih satu spesies atau masih jenis tanaman yang sama.
Xenogamie (asing) : Putik diserbuki oleh serbuk sari dari tanaman lain yg tidak sejenis

Kadang-kadang terjadi kegagalan penyerbukan dan pada beberapa jenis tumbuhan tidak mungkin terjadi penyerbukan sendiri (Autogami), Penyebabnya adalah sebagai berikut :
a. Dikogami:Bila waktu masaknya putik dan serbuk sari tidak bersamaan, hal ini disebabkan karena: 1. Serbuk sari masak lebih dahulu daripada putiknya (Protandri). ....Contoh : seledri, bawang Bombay, jagung 2. Putik masak lebih dahulu daripada serbuk sari ....  (Protogini).b. Didesious:Bila pada satu spesies, alat kelamin jantan dan betinanya terpisah Contoh : Salak dan Melinjoc. Heterostili:Bila panjang antara tangkai benang sari dan tangkai putik tidak sama dan berbeda jauh. Contoh : kopi, kina dan kaca piring.d. Herkogami:Bila bentuk bunga tidak memungkinkan serbuk sari jatuh ke kepala putik. Contoh : vanili







Penyerbukan dapat terjadi dengan berbagai perantara :
a.Perantara angin disebut Anemogami, dapat terjadi bila butir serbuknya amat ringan, kecil dan kering. Contoh : pada pinus, damar, rumput-rumputan.b.Perantara air disebut Hidrogami. Contoh : pada tanaman air.c.Dengan Bantuan/Perantara Hewan disebut Zoogami. Bila serangga entomogami, misal kupu-kupu Bila burung ornitogami Bila siput malakogami Bila kelelawar kiroptorogamid.Dengan Bantuan/Perantara Manusia disebut Antropogami. Contoh : penyerbukan Salak dan Vanilli di Indonesia. Jenis Bunga pada tanaman pangan seperti padi, kedelai dan kacang hijau adalah bunga sempurna, yang berarti dalam sekuntum bunga terdapat bunga jantan (stamen) dan bunga betina (pistil). Hal tersebut memungkinkan terjadinya penyerbukan sendiri (self pollination). Di sisi lain, sekelompok tanaman yang pada umumnya tanaman buah-buahan tahunan bersifat self infertile. Ketidaksuburan tepung sari maupun ketidaknormalan putik menyebabkan permasalahan dalam proses penyerbukan maupun pembuahannya.
Pada proses penyerbukan, apabila bunga dalam suatu tanaman memiliki tepung sari yang tidak subur maka bunga tersebut memerlukan tepung sari lain yang subur. Ada juga tanaman yang mempunyai bunga sempurna,namun susunan morfologi bunga tidak memungkinkan terjadinya self pollination, misalnya terpisahnya bunga jantan dan bunga betina (salak dan kurma) atau halangan fisik lainnya Dengan demikian, jenis tanaman tersebut memerlukan polinator baik yang alami seperti angin, serangga, atau hewan mamalia maupun manusia untuk memindahkan tepung sari dari kepala sari ke kepala putiknya

PEMBUAHAN (FERTILIZATION)
Pada tumbuhan Angiospermae, dua gamet jantan dibawa oleh tabung pollen untuk terjadinya proses fertilisasi. Satu gamet akan melebur dengan inti  telur membentuk embrio dan yang lain melebur dengan dua inti  kutub membentuk endosperm. Proses ini dikenal sebagai pembuahan ganda. Persilangan sexual sangat suatu cara yang  potensial untuk memproduksi tanaman yang superior dengan mengkombinasikan sifat-sifat dalam individu yang berbeda atau spesies atau bahkan genera yang berbeda. Persilangan antar spesies atau takson di atasnya dapat dilakukan dengan salah satu teknik seperti artifisial polinasi dari induk betina dengan pollen dari induk jantan terseleksi.






































PROSES PENYERBUKAN DAN PEMBUAHAN
Butir serbuk/serbuk sari  menempel pada kepala putik  membentuk buluh serbuk (2 inti, inti vegetatif dan inti generatif) berjalan ke arah mikropil (pintu kandung lembaga)  inti generatif membelah  2 inti sperma  sampai di mikropil, inti vegetatif mati  satu inti sperma membuahi sel telur  embrio. Satu inti sperma lain membuahi inti kandung lembaga  endosperma (makanan cadangan bagi embrio).
Embrio pada tumbuhan berbiji tertentu dapat terbentuk karena beberapa sebab. yaitu :
1.Melalui peleburan sperma dan ovum (amfimiksis)2.Tidak melalui peleburan sperma dan ovum (apomiksis), yang dapat dibedakan atas:
a. Apogami
:
Embrio yang terbentuk berasal dari kandung lembaga.Misalnya : dari sinergid dan antipoda.

b. Partenogenesis
:
Embrio terbentuk dari sel telur yang tidak dibuahi.

c. Embrio adventif
:
Embrio yang terbentuk dari sel nuselus, yaitu bagian selain kandung lembaga.

  Apomiksis dan amfimiksis dapat terjadi bersamaan, maka akan terbentuk lebih dari satu embrio dalam satu biji, disebut poliembrioni. Peristiwa ini sering dijumpai pada nangka, jeruk dan mangga.

PEMBIAKAN VEGETATIF (SECARA TAK KAWIN/ASEKSUAL)
        Cara pembiakan vegetatif meliputi: (1) Secara alami dengan penggunaan biji apomiktik (terbentuk tanpa pembuahan dan merupakan bentuk vegetatif) dan penggunaan organ-organ khusus tanaman (hasil modifikasi batang atau akar, misalnya: bulb, tuber, rhizome, dll); (2) Secara buatan dengan stimulasi akar dan tunas adventif ialah ”layerage”, ”cuttage”, atau setek, penyambungan tanaman dan kultur jaringan.
        Pada ”layerage” stimulasi saat organ vegetatif masih bersatu dengan tanaman, misalnya, ”layerage” di atas tanah (cangkokan). Stimulasi pada setek saat organ vegetatif sudah dipisahkan dari tanaman, misalnya setek akar, setek batang, setek daun, dan setek tunas/mata tunas.
Pengertian penyambungan adalah menyambung suatu bagian tanaman (pupuk/mata tunas) pada bagian tanaman lain sehingga menyatu dan tumbuh menjadi tanaman baru. Penyambungan tanaman bisa dalam bentuk ”grafting” (batang atas berupa pucuk), ”budding atau okulasi” (batang atas berupa mata tunas), susuan (saat penyambungan batang bawah dan atas masih pada tanaman masing-masing.
Salah satu keuntungan penyusuan tanaman adalah tingkat keberhasilannya lebih tinggi. Dibandingkan pada ”grafting” dan okulasi. Disamping itu daya adaptasi tanaman batang atas dapat lebih luas. Dibanding tanda batang bawah spesies tanaman lain. Apabila dalam budidaya tanaman ada kesulitan dalam menggunakan benih dan berbagai cara perbanyakan vegetatif, maka penggunaan bibit dari kultur jaringan dianggap jalan keluar yang perlu ditempuh.

Perbanyakan Vegetatif dengan Stek
Tinjauan Umum
Stek merupakan cara perbanyakan tanaman secara vegetatif buatan dengan menggunakan sebagian batang, akar, atau daun tanaman untuk ditumbuhkan menjadi tanaman baru. Sebagai alternarif perbanyakan vegetatif buatan, stek lebih ekonomis, lebih mudah, tidak memerlukan keterampilan khusus dan cepat dibandingkan dengan cara perbanyakan vegetatif buatan lainnya. Cara perbanyakan dengan metode stek akan kurang menguntungkan jika bertemu dengan kondisi tanaman yang sukar berakar, akar yang baru terbentuk tidak tahan stress lingkungan dan adanya sifat plagiotrop tanaman yang masih bertahan.
Keberhasilan perbanyakan dengan cara stek ditandai oleh terjadinya regenerasi akar dan pucuk pada bahan stek sehingga menjadi tanaman baru yang true to name dan true to type. Regenerasi akar dan pucuk dipengaruhi oleh faktor intern yaitu tanaman itu sendiri dan faktor ekstern atau lingkungan. Salah satu faktor intern yang mempengaruhi regenerasi akar dan pucuk adalah fitohormon yang berfungsi sebagai zat pengatur tumbuh.
Boulline dan Went (1933) menemukan substansi yang disebut rhizocaline pada kotiledon, daun dan tunas yang menstimulasi perakaran pada stek. Menurut Hartmann et al (1997), zat pengatur tumbuh yang paling berperan pada
pengakaran stek adalah Auksin.
Jenis tanaman yang berbeda mempunyai kemampuan regenerasi akar dan pucuk yang berbeda pula. Untuk menunjang keberhasilan perbanyakan tanaman dengan cara stek, tanaman sumber seharusnya mempunyai sifat-sifat unggul serta tidak terserang hama dan/atau penyakit. Selain itu, manipulasi terhadap kondisi lingkungan dan status fisiologi tanaman sumber juga penting dilakukan agar tingkat keberhasilan stek tinggi.
Kondisi lingkungan dan status fisiologi yang penting bagi tanaman sumber diantaranya adalah:
1. Status air. Stek lebih baik diambil pada pagi hari dimana bahan stek dalam kondisi turgid.
2. Temperatur. Tanaman stek lebih baik ditumbuhkan pada suhu 12°C hingga 27°C.
3. Cahaya. Durasi dan intensitas cahaya yang dibutuhkan tamnaman sumber tergantung pada jenis tanaman, sehingga tanaman sumber seharusnya ditumbuhkan pada kondisi cahaya yang tepat.
4. Kandungan karbohidrat. Untuk meningkatkan kandungan karbohidrat bahan stek yang masih ada pada tanaman sumber bisa dilakukan pengeratan untuk menghalangi translokasi karbohidrat. Pengeratan juga berfungsi menghalangi translokasi hormon dan substansi lain yang mungkin penting untuk pengakaran, sehingga terjadi akumulasi zat-zat tersebut pada bahan stek. Karbohidrat digunakan dalam pengakaran untuk membangun kompleks
makromolekul, elemen struktural dan sebagai sumber energi. Walaupun kandungan karbohidrat bahan stek tinggi, tetapi jika rasio C/N rendah maka inisiasi akar juga akan terhambat karena unsur N berkorelasi negatif dengan
pengakaran stek (Hartmann et al, 1997).

Faktor lingkungan tumbuh stek yang cocok sangat berpengaruh pada terjadinya regenerasi akar dan pucuk. Lingkungan tumbuh atau media pengakaran seharusnya kondusif untuk regenerasi akar yaitu cukup lembab, evapotranspirasi rendah, drainase dan aerasi baik, suhu tidak terlalu dingin atau panas, tidak terkena cahaya penuh dan bebas dari hama atau penyakit.

Stek Daun
Bahan awal perbanyakan yang dapat digunakan pada stek daun dapat berupa lembaran daun atau lembaran daun beserta petiol. Bahan awal pada stek daun tidak akan menjadi bagian dari tanaman baru. Penggunaan bahan yang
mengandung kimera periklinal dihindari agar tanaman-tanaman baru yang dihasilkan bersifat true to type (Hartmann et al, 1997).
Akar dan tunas baru pada stek daun berasal dari jaringan meristem primer atau meristem sekunder.
Masalah pada stek daun secara umum adalah pembentukan tunas-tunas adventif, bukan akar adventif. Pembentukan akar adventif pada daun lebih mudah dibandingkan pembentukan tunas adventif (Hartmann, et al, 1997).
Secara teknis stek daun dilakukan dengan cara memotong daun dengan panjang 7,5 – 10 cm (Sansevieria) atau memotong daun beserta petiolnya kemudian ditanam pada media (Hartmann et al, 1997). Untuk Begonia dan Violces, perlakuan kimia yang umum dilakukan adalah penyemprotan dengan IBA 100 ppm.

Stek Umbi
Pada stek umbi, bahan awal untuk perbanyakan berupa umbi, yaitu: umbi batang, umbi akar, umbi sisik, dan lain-lain. Senagai bahan perbanyakan, umbi dapat digunakan utuh atau dipotong-potong dengan syarat setiap potongannya mengadung calon tunas. Untuk menghindari terjadinya busuk pada setiap potongan umbi, maka umbi perlu dierandap dalam bakterisida dan fungisida.
Contoh tanaman yang bisa diperbanyak dengan stek umbi antara lain: Solanum tuberosum, Ipomoea batatas, Caladium, Helianthus tuberosus, Amarilis, dan lainlain.

Stek Batang
Bahan awal perbanyakan berupa batang tanaman. Stek batang dikelompokkan menjadi empat macam berdasarkan jenis batang tanaman, yakni: berkayu keras, semi berkayu, lunak, dan herbaceous.
Bahan tanaman yang biasa diperbanyak dengan stek batang berkayu keras antara lain: apel, pear, cemara, dan lain-lain.
Stek batang semi berkayu, contohnya terdapat pada tanaman Citrus sp.
Stek batang berkayu lunak, contohnya terdapat pada tanaman Magnolia. Pada stek batang berkayu
lunak ini umumnya akar relatif cepat keluar (2 – 5 minggu).
Stek batang yang tergolong herbaceus, dilakukan pada tanaman
Dieffenbachia, Chrisanthemum, dan Ipomoea batatas.

Pembiakan vegetatif Stek
Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan pembiakan vegetatif stek digolongkan menjadi 3 bagian
(Rochiman dan Harjadi, 1973 dalam Pudjiono 1998):
Faktor tanaman, terdiri dari
Macam bahan stek
Umur bahan stek
Adanya tunas dan daun pada stek
Kandungan bahan makanan pada stek
Kandungan zat tumbuh
Pembentukan kallus
Faktor lingkungan, terdiri dari
Media pertumbuhan
Kelembaban
Temperatur
Cahaya
Faktor pelaksanaan, terdiri dari
Perlakuan sebelum pengambilan bahan stek
Waktu pengambilan stek
Pemotongan stek dan pelukaan
Penggunaan zat tumbuh
Kebersihan dan pemeliharaan

Pembiakan vegetatif Cangkok
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan pencangkokan tanaman adalah sebagai berikut:
Waktu mencangkok
Waktu terbaik melakukan pencangkokan adalah pada musim hujan, karena tak perlu melakukan penyiraman berulang-ulang, selain dari itu pada musim hujan cangkokan agak cepat berhasilnya sehingga dalam musim itu juga telah dapat ditanamkan. Pencangkokan dapat pula dilakukan pada musim kemarau, asal dilakukan penyiraman 1-2 kali sehari.
Pemilihan batang cangkokan
Batang cangkokan sebaiknya jangan diambil dari pohon induk yang terlalu tua sebab biasanya dahan pohon induk tersebut kurang baik untuk dicangkok, dan juga jangan pula diambil dari pohon yang terlalu muda sebab belum dapat diketahui sifat-sifatnya. Pohon induk yang sedang umurnya, kuat, sehat dan subur serta banyak dan baik buahnya, sangat baik diambil batangnya untuk cangkokan.
Pemeliharaan cangkokan
Selama pencangkokan berlangsung pemeliharaan dianggap sudah cukup apabila media cangkokan tersebut cukup lembab sepanjang waktu.

ALASAN DILAKUKAN CANGKOK :
Tidak dapat dibiakkan dengan mound layerage atau cara-cara layerage lainnya
Punya batang/ cabang yang diameternya besar sehingga sulit dilengkungkan.
Mempunyai batang-batang masak yang bertunas lateral pada atau dekat dasar, tapi tak bersedia melakukan regenerasi bila dipakai cara-cara layerage lainnya

KEUNTUNGAN  :
Sifat tanaman baru persis seperti induknya
Tanaman dari cangkokan akan menghasilkan dalam waktu relatif singkat (3-4 tahun)
Waktu yang diperlukan untuk perbanyakan, relatif singkat ( 1 – 3 bulan)

KELEMAHAN  :
Pohon induk sering rusak bentuknya.
Hasil pohon induk menurun karena cabang-cabang yang baik diambil
Dalam waktu singkat tak dapat menyediakan jumlah cangkok yang banyak
Perakaran pohon cangkok kurang baik (tidak punya akar tunggang
Perlu ketelitian kerja (skill) dan juga pemeliharaan
Bentuk pohon cangkokan sukar dipelihara


































Pembiakan Generatif-Vegetatif Sambung/ grafting
Faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya graft union dibagi menjadi 3 golongan:
Faktor lingkungan
Waktu penyambungan
Temperatur dan kelembaban
Cahaya
Faktor tanaman
Kompatibilitas dan inkompatibilitas
Keadaan fisiologi tanaman
Keserasian bentuk potongan
Persentuhan kambium
Kegiatan kambium
Pengelupasan kulit kayu
Kekuatan akar
Faktor pelaksanaan
Cara sambungan
Ketangkasan atau keahlian dalam menyambung
Kesempurnaan alat-alat
Pemeliharaan tanaman yang disambung.

Komentar :


ShoutMix chat widget
Halo.....
Terima Kasih Atas Kunjungannya,
Semoga Bermanfaat.